Senin, 13 Januari 2014

Penyihir Juga Manusia Biasa

Bila bicara sihir dan film maka orang-orang akan menyebutkan seri film Harry Potter. Tapi, tidak dalam pos kali ini. Saya akan membicarakan sebuah film yang diproduksi oleh Walt Disney pada tahun 2010, yakni The Sorcerer;s Apprentice. Alasan utamanya ialah film tersebut meskipun tidak sepopuler franchise Harry Potter namun film tersebut memiliki daya tarik khas disney dalam merepresentasikan tentang penyihir.

The Sorcerer's Apprentice dibintangi oleh Jay Baruchel sebagai David Stutler yang menjadi tokoh utamanya, Nicolas Cage sebagai Balthazar Blaze, Alfred Molina sebagai Maxim Hovarth, Teresa Palmer sebagai Becky, Monica Bellucci sebagai Veronica, dan Alice Kridge sebagai Morgana. Garis besar ceritanya mengisahkan pencarian Balthazar atas penyihir yang mewarisi kekuatan dari Merlin, gurunya, yang disebut Prime Merlinian. Pencarian Balthazar tersebut bertujuan untuk mengalahkan Morgana yang terperangkap di dalam Grimhold, sebuah benda penyegel. Di dalam Grimhold, Morgana dikurung bersama dengan tubuh Veronica, seorang murid Merlin sama seperti Balthazar. Meskipun dikurung, Morgana dapat bangkit lagi dan untuk mengalahkannya sepenuhnya dibutuhkan seorang Prime Merlinian yang memiliki kekuatan sihir di atas rata-rata penyihir biasa.

Pencarian Balthazar atas Prime Merlinian berakhir kala ia menemukan Dave kecil. Hal itu ditandai dengan respon yang diberikan Dragon Ring milik Merlin kala Dave memegangnya. Namun, sebelum Balthazar mampu untuk melatih Dave, mereka berdua diserang oleh Hovart--salah satu murid Merlin yang membelot dan menjadi pengikut Morgana--dan sebagai upaya menghentikannya, Balthazar mengurung Hovart beserta dirinya sendiri di dalam sebuah guci. Hingga sepuluh tahun kemudian, Balthazar dan Hovart berhasil keluar dari guci tersebut dan sama-sama mencari Grimhold yang mengurung Morgana.

Balthazar dan Hovart tidak langsung mencari Grimhold, mereka berdua mencari bocah yang sepuluh tahun lalu terakhir memegang Grimhold, yakni Dave. Hovart berhasil menemukan Dave terlebih dahulu dan menanyakan tentang Grimhold disertai ancaman. Dave berhasil melarikan diri dan kemudian ditolong oleh sihir Balthazar. Kemudian keduanya mencari Grimhold dan Balthazar pun mengajari Dave untuk menyihir dengan menggunakan Dragon Ring yang diberikannya dahulu. Sihir pertama yang diajarkan ialah membuat dan menembakkan api. Di sini keunikan dari film The Sorcerer's Apprentice, yakni dalam melakukan sihir.

Cara menggunakan sihir dalam film tersebut tidak dengan sekedar mantra dan tongkat sihir. Sihir yang digunakan menggunakan ilmu fisika. Misalnya, saat Balthazar mengajarkan Dave untuk memunculkan api, ia menjelaskan bahwa tiap benda, baik hidup dan mati, memiliki rotasi parikel yang bergerak teratur. Bila pergerakan itu dipercepat dan menimbulkan gesekan maka akan menimbulkan api. Penyihir dalam film The Sorcerer's Apprentice dapat disamakan dengan fisikawan. Selain itu, dunia "sihir" tidak digambarkan sebagai sebuah dunia yang penuh keajaiban, melainkan sebuah dunia yang sama seperti dunia manusia biasa. Dunianya hanya satu, tidak seperti dunia di dalam Harry Potter yang terbedakan antara dunia penyihir dengan dunia manusia biasa atau Muggle.  Selain itu, tidak dimunculkannya binatang-binatang mitos seperti dalam seri Harry Potter dan juga tidak memunculkan benda-benda magis lainnya. Dalam film ini hanya memunculkan beberapa benda magis, seperti Merlin Ring, Grimhold, karpet penghisap (lupa namanya) dan buku ajar yang digunakan Balthazar untuk mengajar Dave.

Grimhold
Di antara beberapa benda magis yang muncul di film ini, saya akan sedikit membahas mengenai Grimhold. Kalau melihat dari asal katanya, asumsi saya Grimhold terdiri dari dua kata dasar, yakni "grim" dan "hold".Kata Grim memiliki banyak arti, di antaranya yakni mengerikan, jahat, kaku, dan lain sebagainya. Namun, dalam film tersebut, menurut saya itu lebih mengacu kepada arti mengerikan. Selain itu, kata grim juga mengacu kepada dewa kematian, yakni grim reaper (sosok hitam berjubah yang membawa sabit pencabut nyawa). Lalu, kata hold memiliki arti memegang, menahan, menyimpan dan lain sebagainya. Jadi, Grimhold dapat diartikan benda untuk menahan atau mengurung roh jahat. Bila dilihat dari bentuknya, Grimhold menyerupai mathryoska 'boneka kayu' dari Rusia.

The Sorcerer's Apprentice dapat dikatakan sebagai film drama komedi keluarga. Hal itu dikarenakan film ini memiliki jalan cerita yang ringan dan dbingkai dalam komedi untuk keluarga. Sayangnya, film ini memiliki alur yang sangat cepat sehingga ceritanya terkesan terburu-buru dan tidak menonjolkan sisi "kepenyihiran"-nya. Ceritanya sebenarnya bagus, hanya saja menjadi tak tersampaikan karena alur yang terlalu cepat. Selain itu, tokoh utamanya, Dave, terkesan hanya menjadi tokoh sampingan dari Balthazar. Hal itu juga salah satu efek dari alur cerita yang terlalu cepat.


Sebelum saya mengakhiri tulisan ini, saya akan mengatakan satu hal unik yang saya temukan dalam film tersebut, yakni referen terhadap film Fantasia yang dibuat oleh Disney. Film yang menceritatakan tentang Micky Mouse yang menjadi murid dari Merlin. Referen itu bisa ditemukan di dalam film dan setelah credit title di akhir film. Saya akan berikan salah satu referen terhadap film Fantasia tersebut. Gambar terdapat dalam sequen ketika Dave mencoba membersihkan "markas" rahasianya dengan menggunakan sihir saat Becky hendak main ke "markas"-nya tersebut. Ia menghidupkan sapu, pel, spons untuk membersihkan ruangan.

Namun yang terjadi ialah kekacauan di mana-mana dan banjir. Peristiwa yang sama juga terdapat dalam film Fantasia, saat Micky mencoba topi Merlin dan menyihir sapu serta pel untuk membersihkan ruangan. Gambar di sebelah kiri menunjukkan sapu yang bergerak sendiri setelah disihir oleh Micky untuk membersihkan ruangan. Kejadian selanjutnya pun sama, bukan menjadi bersih dan rapi melainkan kekacauan. Hal itu menjadi satu referen bahwa dalam film The Sorcerer's Apprentice memasukkan referen tersebut agar penonton yang pernah menonton Fantasia sedikit bernostalgia. Selain itu, kedua film tersebut memang diproduksi oleh Disney.

Komentar terakhir saya mengenai film ini ialah perlunya sequel untuk lebih memperdalam tema cerita dari film tersebut. Masih banyak hal yang tidak terjelaskan dan tidak dijelaskan dalam film tersebut, seperti apakah prime merlinian hanya ada satu di dunia atau tugas lainnya dari prime merlinian selain mengalahkan para morganian. Hal yang paling membuat saya kecewa ialah penampakan dari penyihir jahat yang terkurung dalam Grimhold tidak terjelaskan, baik secara latar belakang si penyihir maupun kekuatan yang ia miliki. Hanya Hovart dan penyihir jahat dari cina saja yang terlihat menggunakan kekuatannya.

Rabu, 01 Januari 2014

Sherlock Holmes: Dari Deduction Sense Hingga Brother With A Bond

Misteri lekat hubungannya dengan rasa penasaran untuk mengungkapkannya. Khususnya misteri yang meliputi suatu kejahatan pastinya perlu diungkapkan agar dapat menangkap dan menghukum penjahatnya. Misteri kejahatan biasanya diungkap oleh sekelompok orang dalam kepolisian dan terkadang di luar negeri dapat diungkap oleh seorang detektif swasta. Untuk posting kali ini saya akan membahas film yang mengangkat tokoh fiksi terkenal di Inggris yakni Sherlock Holmes.

Film Sherlock Holmes yang saya bahas ialah film keluaran tahun 2009 yang disutradarai oleh Guy Ritchie. Tokoh-tokoh dalam film tersebut diperankan oleh Robert Downey Jr. sebagai Sherlock Holmes, Jude Law sebagai Dr. John Watson, Rachel McAdams sebagai Irene Adler, Mark Strong sebagai Lord Blackwood (tokoh antagonis), Eddie Marsan sebagai Inspector Lestrade, Geraldine James sebagai Mrs. Hudson, dan Kelly Reilly sebagai Mary Morstan. Tokoh-tokoh yang saya sebutkan tersebut merupakan tokoh-tokoh penting dalam dunia fiksi Sherlock Holmes.

Sebelum membahas filmn Sherlock Holmes tahun 2009, saya akan sedikit membahas mengenai asal-muasal tokoh fiksi Sherlock Holmes. Tokoh Sherlock Holmes merupakan tokoh fiksi ciptaan seorang pengarang yang bernama Sir Arthur Conan Doyle. Karakter Sherlock Holmes dikemas oleh Conan Doyle sebagai seorang detektif tenang dan memiliki daya logika serta analisa melebihi manusia normal. Ia seorang yang teliti, cermat dan skeptis atas segala sesuatu, baik lingkungan terdekatnya maupun pada kasus yang sedang dijalaninya. Detektif yang hobinya memainkan biola dan menghisap pipa tersebut hadir dalam dunia fiksi Inggris pada tahun 1887 dalam novel yang berjudul A Study in Scarlet.

Dalam menjalankan aksinya, Sherlock Holmes selalu ditemani partner setianya, yakni Dr. John Watson. Tokoh Watson digambarkan sebagai seorang dokter yang pernah bekerja pada angkatan bersenjata Inggris. Watson memiliki karakter yang sedikit bertolak belakang dengan Holmes. Ia sedikit tempramen, berpikir sederhana, dan memiliki tujuan hidup sebagaimana laki-laki umum, yakni menikah dan hidup dengan keluarganya. Pertemuan dengan Holmes pertama kali saat Watson pulang dari perang dan menempati sebuah apartemen no. 221B di Baker Street, apartemen milik Mrs. Hudson. 

Ketika menyelesaikan suatu kasus, Watsonlah yang sering dimintai oleh Holmes untuk mengumpulkan data ke penjuru kota. Hal itu dikarenakan, Holmes merupakan individu yang tertutup (disebabkan sifat skeptisnya) sedangkan Watson memang lebih "diterima" dalam kehidupan sosial di lingkungan mereka. Melalui keahlian Watson dalam menghimpun data menjadi tumpuan Holmes bergerak dalam menyelesaikan kasus-kasus yang diterimanya dari Scotland Yard atau kepolisian Inggris. Inspektur Lestrade lah yang biasanya meminta bantuan Holmes dan Watson dalam menyelesaikan kasus-kasus pelik yang sedang ditangani kepolisian. Namun, seringkali, Holmeslah yang memasuki suatu kasus yang dianggapnya menarik dari pemberitaan di koran harian langganannya.

Sherlock Holmes dan Dr. John Watson seringkali beragumen, karena tempramennya Watson, atas suatu hal. Mereka sering bertengkar tapi cepat berbaikan, seperti layaknya dua bersaudara. Hubungan mereka sering dikatakan sebagai brother with a bond, not by blood. Menariknya, rasa perhatian keduanya ditampakkan secara eksplisit. Keduanya saling melengkapi satu dengan yang lainnya.

Kembali ke film Sherlock Holmes tahun 2009. Film tersebut mengisahkan tentang upaya Sherlock Holmes dan Dr. John Watson dalam menyelesaikan kasus misteri yang berkaitan tentang suatu sekte di Inggris, Temple of Four Order (sorry kalo kurang tepat, soalnya bahasa filmnya menggunakan bahasa Inggris aksen British). Dalam film ini, antagonis utamanya ialah Lord Blackwood, salah seorang anggota sekte tersebut yang membelot. Lord Blackwood mencoba menantang Holmes untuk menghadapi dirinya. Blackwood mengaku memiliki ilmu hitam dan akan menguasai Inggris dengan ilmu hitamnya, namun Holmes tidak percaya akan ilmu hitam dan mencoba memecahkannya menggunakan alur logika serta barang bukti.

Dari berbagai peristiwa pembunuhan yang aneh dan tidak masuk akal, Holmes berhasil mengungkap bahwa semua pembunuhan yang dilakukan Blackwood menggunakan trik dan teknologi yang pada masa itu belumlah lumrah alias penemuan baru. Mulai dari hidupnya kembali Blackwood setelah dihukum gantung hingga rencana pembunuhan massal anggota senat Inggris yang menggunakan alat genosida. Semua berhasil dipecahkan Holmes dengan bantuan Watson.

Dalam film ini ada beberapa hal yang menarik bagi saya. Pertama ialah teknik sinematografis deduction sense. Teknik tersebut merupakan teknik sinematografis yang menampilkan arah deduksi pemikiran dalam menebak arah gerak serangan dari musuh. Teknik ini memadukan antara slow motion, semi flashback, dan narasi yang menjelaskan alur pergerakan deduksi holmes. Bagi saya, ini merupakan cara unik untuk menggambarkan bagaimana Holmes berpikir dan bagaimana ia melihat segala pergerakan yang ada di depannya. Selain itu, deduction sense juga digunakan saat Holmes menjelaskan hasil analisisnya terhadap sesuatu hal, baik mekanisme trik yang digunakan Blackwood maupun kronologis pembunuhan.

Kedua, hubungan brother with a bond antara Holmes dengan Watson. Meski mereka berdua pribadi yang berbeda, namun sejatinya keduanya saling melengkapi. Keduanya saling memahami kelebihan dan kekurangan masing-masing dan mengetahui kebiasaan baik maupun buruk masing-masing. Holmes akan dengan malu-malu untuk mengakui salah pada Watson ketika ia melakukan hal yang salah dan begitu pula Watson. Keduanya menjadi satu paket dalam memberantas kejahatan.

Ketiga, cara bertarung Holmes yang tidak berusaha melukai namun berupaya melumpuhkan musuhnya. Jarang ia memukul dengan kepalan tangan, biasanya lebih pada tamparan atau menggunakan anggota badan yang tidak lazim untuk memukul. Misalnya, punggung tangan, punggung lengan, siku tangan, dan lain sebagainya. Berbeda dengan Watson yang bertarung dengan brutal. Meskipun berbeda, keduanya merupakan petarung yang tangguh.

Keempat, kisah asmara Holmes dengan Irene Adler, seorang pencuri perempuan yang sangat ahli. Hal yang membuat Holmes tertarik padanya ialah metode yang dilakukan oleh Adler cukup berkelas dan ia selalu lolos dari polisi. Meskipun cantik, Adler memiliki teknik beladiri yang baik. Ia selalu menyelipkan pisau kecil di balik lengan bajunya. Adler satu-satunya pencuri yang dapat memanipulasi Holmes. Dalam film ini Adler mendatangi Holmes karena ia mau meminta pertolongan Holmes untuk mencari seseorang untuk kliennya. Namun, Adler tidak menyebutkan alasannya apa dan siapa kliennya. Sisi misterius Adler itu juga salah satu daya tariknya. Akhirnya Holmes membuntuti Adler dan melihat sekilas dari pakaian yang dikenakan sosok miserius di dalam kereta yang dinaiki Adler. Berdasarkan dari gaya berpakaiannya dan pin di bajunya, Holmes berasumsi kliennya seorang Professor. Di akhir film, Adler memberitahukan siapa nama kliennya, yakni Professor James Moriarty.

Kelima, Sherlock Holmes dalam film ini memiliki ciri fisik yang berbeda dengan Sherlock Holmes yang sudah dikenal oleh masyarakat dunia. Penggambaran Sherlock Holmes yang diketahui selama ini menggunakan topi yang memiliki dua ujung, menggunakan pipa untuk merokok, berjubah (biasanya digambarkan berjubah kotak garis coklat) dan sering menggunakan kaca pembesar. Dalam film ini, Sherlock Holmes terlihat lebih dekil, urakan, berpakaian nyentrik, dan selalu membawa peralatannya dalam sebuah kantong di balik bajunya. Sama sekali berbeda dengan versi yang selama ini diketahui orang. Namun, pola deduksi dan analoginya masih dipertahankan.

Demikian review tentang film Sherlock Holmes tahun 2009. Semoga pos ini berguna, meskipun filmnya sudah cukup lama beredar dan sudah ada dalam bentuk videonya. Usahakan untuk membeli vcd, dvd, ataupun bluray yang asli kawan. Salam film coooyyy......