Rabu, 01 Januari 2014

Sherlock Holmes: Dari Deduction Sense Hingga Brother With A Bond

Misteri lekat hubungannya dengan rasa penasaran untuk mengungkapkannya. Khususnya misteri yang meliputi suatu kejahatan pastinya perlu diungkapkan agar dapat menangkap dan menghukum penjahatnya. Misteri kejahatan biasanya diungkap oleh sekelompok orang dalam kepolisian dan terkadang di luar negeri dapat diungkap oleh seorang detektif swasta. Untuk posting kali ini saya akan membahas film yang mengangkat tokoh fiksi terkenal di Inggris yakni Sherlock Holmes.

Film Sherlock Holmes yang saya bahas ialah film keluaran tahun 2009 yang disutradarai oleh Guy Ritchie. Tokoh-tokoh dalam film tersebut diperankan oleh Robert Downey Jr. sebagai Sherlock Holmes, Jude Law sebagai Dr. John Watson, Rachel McAdams sebagai Irene Adler, Mark Strong sebagai Lord Blackwood (tokoh antagonis), Eddie Marsan sebagai Inspector Lestrade, Geraldine James sebagai Mrs. Hudson, dan Kelly Reilly sebagai Mary Morstan. Tokoh-tokoh yang saya sebutkan tersebut merupakan tokoh-tokoh penting dalam dunia fiksi Sherlock Holmes.

Sebelum membahas filmn Sherlock Holmes tahun 2009, saya akan sedikit membahas mengenai asal-muasal tokoh fiksi Sherlock Holmes. Tokoh Sherlock Holmes merupakan tokoh fiksi ciptaan seorang pengarang yang bernama Sir Arthur Conan Doyle. Karakter Sherlock Holmes dikemas oleh Conan Doyle sebagai seorang detektif tenang dan memiliki daya logika serta analisa melebihi manusia normal. Ia seorang yang teliti, cermat dan skeptis atas segala sesuatu, baik lingkungan terdekatnya maupun pada kasus yang sedang dijalaninya. Detektif yang hobinya memainkan biola dan menghisap pipa tersebut hadir dalam dunia fiksi Inggris pada tahun 1887 dalam novel yang berjudul A Study in Scarlet.

Dalam menjalankan aksinya, Sherlock Holmes selalu ditemani partner setianya, yakni Dr. John Watson. Tokoh Watson digambarkan sebagai seorang dokter yang pernah bekerja pada angkatan bersenjata Inggris. Watson memiliki karakter yang sedikit bertolak belakang dengan Holmes. Ia sedikit tempramen, berpikir sederhana, dan memiliki tujuan hidup sebagaimana laki-laki umum, yakni menikah dan hidup dengan keluarganya. Pertemuan dengan Holmes pertama kali saat Watson pulang dari perang dan menempati sebuah apartemen no. 221B di Baker Street, apartemen milik Mrs. Hudson. 

Ketika menyelesaikan suatu kasus, Watsonlah yang sering dimintai oleh Holmes untuk mengumpulkan data ke penjuru kota. Hal itu dikarenakan, Holmes merupakan individu yang tertutup (disebabkan sifat skeptisnya) sedangkan Watson memang lebih "diterima" dalam kehidupan sosial di lingkungan mereka. Melalui keahlian Watson dalam menghimpun data menjadi tumpuan Holmes bergerak dalam menyelesaikan kasus-kasus yang diterimanya dari Scotland Yard atau kepolisian Inggris. Inspektur Lestrade lah yang biasanya meminta bantuan Holmes dan Watson dalam menyelesaikan kasus-kasus pelik yang sedang ditangani kepolisian. Namun, seringkali, Holmeslah yang memasuki suatu kasus yang dianggapnya menarik dari pemberitaan di koran harian langganannya.

Sherlock Holmes dan Dr. John Watson seringkali beragumen, karena tempramennya Watson, atas suatu hal. Mereka sering bertengkar tapi cepat berbaikan, seperti layaknya dua bersaudara. Hubungan mereka sering dikatakan sebagai brother with a bond, not by blood. Menariknya, rasa perhatian keduanya ditampakkan secara eksplisit. Keduanya saling melengkapi satu dengan yang lainnya.

Kembali ke film Sherlock Holmes tahun 2009. Film tersebut mengisahkan tentang upaya Sherlock Holmes dan Dr. John Watson dalam menyelesaikan kasus misteri yang berkaitan tentang suatu sekte di Inggris, Temple of Four Order (sorry kalo kurang tepat, soalnya bahasa filmnya menggunakan bahasa Inggris aksen British). Dalam film ini, antagonis utamanya ialah Lord Blackwood, salah seorang anggota sekte tersebut yang membelot. Lord Blackwood mencoba menantang Holmes untuk menghadapi dirinya. Blackwood mengaku memiliki ilmu hitam dan akan menguasai Inggris dengan ilmu hitamnya, namun Holmes tidak percaya akan ilmu hitam dan mencoba memecahkannya menggunakan alur logika serta barang bukti.

Dari berbagai peristiwa pembunuhan yang aneh dan tidak masuk akal, Holmes berhasil mengungkap bahwa semua pembunuhan yang dilakukan Blackwood menggunakan trik dan teknologi yang pada masa itu belumlah lumrah alias penemuan baru. Mulai dari hidupnya kembali Blackwood setelah dihukum gantung hingga rencana pembunuhan massal anggota senat Inggris yang menggunakan alat genosida. Semua berhasil dipecahkan Holmes dengan bantuan Watson.

Dalam film ini ada beberapa hal yang menarik bagi saya. Pertama ialah teknik sinematografis deduction sense. Teknik tersebut merupakan teknik sinematografis yang menampilkan arah deduksi pemikiran dalam menebak arah gerak serangan dari musuh. Teknik ini memadukan antara slow motion, semi flashback, dan narasi yang menjelaskan alur pergerakan deduksi holmes. Bagi saya, ini merupakan cara unik untuk menggambarkan bagaimana Holmes berpikir dan bagaimana ia melihat segala pergerakan yang ada di depannya. Selain itu, deduction sense juga digunakan saat Holmes menjelaskan hasil analisisnya terhadap sesuatu hal, baik mekanisme trik yang digunakan Blackwood maupun kronologis pembunuhan.

Kedua, hubungan brother with a bond antara Holmes dengan Watson. Meski mereka berdua pribadi yang berbeda, namun sejatinya keduanya saling melengkapi. Keduanya saling memahami kelebihan dan kekurangan masing-masing dan mengetahui kebiasaan baik maupun buruk masing-masing. Holmes akan dengan malu-malu untuk mengakui salah pada Watson ketika ia melakukan hal yang salah dan begitu pula Watson. Keduanya menjadi satu paket dalam memberantas kejahatan.

Ketiga, cara bertarung Holmes yang tidak berusaha melukai namun berupaya melumpuhkan musuhnya. Jarang ia memukul dengan kepalan tangan, biasanya lebih pada tamparan atau menggunakan anggota badan yang tidak lazim untuk memukul. Misalnya, punggung tangan, punggung lengan, siku tangan, dan lain sebagainya. Berbeda dengan Watson yang bertarung dengan brutal. Meskipun berbeda, keduanya merupakan petarung yang tangguh.

Keempat, kisah asmara Holmes dengan Irene Adler, seorang pencuri perempuan yang sangat ahli. Hal yang membuat Holmes tertarik padanya ialah metode yang dilakukan oleh Adler cukup berkelas dan ia selalu lolos dari polisi. Meskipun cantik, Adler memiliki teknik beladiri yang baik. Ia selalu menyelipkan pisau kecil di balik lengan bajunya. Adler satu-satunya pencuri yang dapat memanipulasi Holmes. Dalam film ini Adler mendatangi Holmes karena ia mau meminta pertolongan Holmes untuk mencari seseorang untuk kliennya. Namun, Adler tidak menyebutkan alasannya apa dan siapa kliennya. Sisi misterius Adler itu juga salah satu daya tariknya. Akhirnya Holmes membuntuti Adler dan melihat sekilas dari pakaian yang dikenakan sosok miserius di dalam kereta yang dinaiki Adler. Berdasarkan dari gaya berpakaiannya dan pin di bajunya, Holmes berasumsi kliennya seorang Professor. Di akhir film, Adler memberitahukan siapa nama kliennya, yakni Professor James Moriarty.

Kelima, Sherlock Holmes dalam film ini memiliki ciri fisik yang berbeda dengan Sherlock Holmes yang sudah dikenal oleh masyarakat dunia. Penggambaran Sherlock Holmes yang diketahui selama ini menggunakan topi yang memiliki dua ujung, menggunakan pipa untuk merokok, berjubah (biasanya digambarkan berjubah kotak garis coklat) dan sering menggunakan kaca pembesar. Dalam film ini, Sherlock Holmes terlihat lebih dekil, urakan, berpakaian nyentrik, dan selalu membawa peralatannya dalam sebuah kantong di balik bajunya. Sama sekali berbeda dengan versi yang selama ini diketahui orang. Namun, pola deduksi dan analoginya masih dipertahankan.

Demikian review tentang film Sherlock Holmes tahun 2009. Semoga pos ini berguna, meskipun filmnya sudah cukup lama beredar dan sudah ada dalam bentuk videonya. Usahakan untuk membeli vcd, dvd, ataupun bluray yang asli kawan. Salam film coooyyy......

Tidak ada komentar:

Posting Komentar